Pages

Friday, 27 July 2012

Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan

Penjumlahan atau pengurangan pada bilangan pecahan sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti pada kejadian berikut ini. Penghasilan Pak Wawan selama 1 bulan sebesar Rp. 2.000.000,00. 1/4 bagian dari penghasilannya digunakan untuk biaya pendidikan anak-anaknya, 2/5 bagian untuk kebutuhan hidup sehari-hari, 1/8 bagian untuk ditabung, dan sisanya untuk kebutuhan lain-lain. Berapakah biaya yang harus dikeluarkan Pak Wawan untuk kebutuhan lain-lain ? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut dapat kita lakukan dengan operasi hitung bilangan pecahan. Operasi hitung bilangan pecahan meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan lebih mudah dilakukan apabila penyebut dari pecahan-pecahan tersebut sudah sama. Berikut ini penjelasan mengenai penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan.

Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Berpenyebut Sama
Untuk pecahan-pecahan yang berpenyebut sama untuk menjumlahkan/mengurangkan pecahan tersebut jumlahkan/kurangkan hanya pembilangnya saja. Apabila pecahan tersebut berbentuk pecahan persen, pecahan desimal, atau pecahan campuran sebaiknya ubah terlebih dahulu bentuk-bentuk pecahan tersebut ke pecahan biasa.
Contoh 1 :

1+3 =  1 + 3=  4
5
555
Contoh 2 :

5-3 =  5 - 3=  2
6
666

Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Beda Penyebut
Untuk menjumlahkan atau mengurangkan pecahan yang berbeda penyebut, langkah pertama adalah menyamakan penyebut dari pecahan tersebut. Untuk menyamakan penyebut pecahan gunakan KPK dari penyebut pecahan-pecahan tersebut. Setelah penyebut masing-masing pecahan sama, jumlahkan/kurangkan pembilang dari pecahan-pecahan tersebut.
Contoh 1 :

1+1 KPK dari 2 dan 4 adalah 4, sehingga menjadi   2 + 1=  3
2
444
Contoh 2 :

52 KPK dari 6 dan 3 adalah 6, sehingga menjadi   5 - 4=  1
6
366

Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Desimal
Untuk penjumlahan pecahan desimal dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara dengan mengubah pecahan ke bentuk pecahan biasa atau dengan cara bersusun.
Cara 1
Untuk menjumlahkan pecahan desimal, pecahan-pecahan tersebut dapat kita ubah terlebih dahulu menjadi pecahan biasa.
Contoh :
  • 0,25 + 0,03
Ubah pecahan-pecahan tersebut ke bentuk pecahan biasa :

25+325 + 3=  28
100
100100100
Jadi 0,25 + 0,03 = 0,28
  • 1,45 - 0,75

145-75145 - 75=  70
100
100100100
Jadi 1,45 - 0,75 = 0,70


Cara 2
Untuk penjumlahan atau pengurangan pecahan desimal dengan cara bersusun ini harus diperhatikan nilai tempat dari pecahan desimal tersebut. Apabila penempatan nilai tempat ini tidak tepat akan mengakibatkan hasil yang keliru.
Contoh
1, 45            2,36
0,56 +        1, 25 -
2,11          1, 11

Untuk penjumlahan dan pengurangan  pecahan bentuk persen dan campuran dapat kita lakukan dengan cara seperti di atas. Apabila penyebutnya tidak sama makan samakan penyebut pecahan-pecahan tersebut. Penjumlahan dan pengurangan pecahan yang dijumlahkan atau dikurangkan hanya penyebutnya saja.

Ditulis oleh:ghany maulana
Media Belajar Diperbarui pada: Friday, July 27, 2012

Thursday, 26 July 2012

Menentukan Nilai Pecahan

Menentukan Nilai Pecahan. Pecahan terdiri dari pembilang dan penyebut. Hakikat transaksi dalam bilangan pecahan adalah bagaimana cara menyederhanakan pembilang dan penyebut. Penyederhanaan pembilang dan penyebut akan memudahkan dalam operasi aritmetika sehingga tidak menghasilkan angka yang terlalu besar tetapi tetap mempunyai nilai yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membagi-bagikan makanan kepada orang lain. Misalkan kita membagi 10 buah jeruk kepada 5 orang dan setiap orang itu mendapat bagian yang sama. Masalah ini sangat mudah diselesaikan oleh siswa yang sudah menguasai operasi pembagian bilangan asli, yaitu 10 : 2 = 5. Bagaimana jika masalahnya kita ubah menjadi sebagai berikut:  Misalkan kita membagi 2 buah mangga untuk 5 orang dengan setiap orang memperoleh bagian yang sama. Berapa buah mangga yang diterima oleh setiap orang itu? Dalam kehidupan sehari-hari bilangan pecahan banyak digunakan. Sering dalam suatu percakapan kita menggunakan kata-kata atau kalimat yang berhubungan dengan nilai pecahan. Seperti pada contoh di bawah ini :
  • Seperlima dari siswa perempuan nilai rata-rata matematika diatas 75.
  • 50% dari siswa Kelas VI telah berusia lebih dari 11 tahun;
  • 1/4 luas tanah Pak Bondan ditanami jagung, dan lain-lain.
Contoh-contoh tersebut merupakan penggunaan nilai pecahan atau persentase dari suatu benda atau bilangan. Seperlima, 50%, dan 1/4 adalah bilangan pecahan yang menyatakan bagian dari suatu jumlah keseluruhan. Untuk dapat menentukan nilai pecahan mari kita ingat kembali perkalian pecahan dengan bilangan asli. Bilangan asli dikalikan bilangan pecahan hasilnya adalah bilangan asli dikalikan pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Atau dalam bentuk umum sebagai berikut :
a x b =a x b 
cc
Contoh soal :
Contoh 1:
Banyak siswa kelas VI ada 48 anak. Hari ini 1/12 dariseluruh siswa tidak masuk sekolah karena sakit. Hitunglah banyak siswa yang tidak masuk hari ini.
Banyak siswa yang tidak masuk :
1
x  48 = 1 x 48 = 4 
1212
Jadi banyak siswa yang tidak masuk ada 4 orang siswa. 
Contoh 2 :
Luas tanah Pak Budi 10.500 m². Pak Budi berencana memberikan 7/10 bagian dari luas tanah kepada yayasan sosial. Berapa luas tanah yang diberikan Pak Budi kepada yayasan sosial ?
Luas tanah untuk yayasan sosial :
7
x  10.500 = 7 x 10.5007.350 m² 
1010
Contoh 3 :
Bu Eli membeli baju seharga Rp. 150.000,00. Jika ia memperoleh diskon sebanyak 20%, ia harus membayar sebanyak Rp.....
Uang yang harus dibayar Bu eli
= Rp. 150.000 - ( 20
x  Rp. 150.000,00) = Rp. 150.000 -Rp. 30.000  
= Rp. 120.000 
100

Ditulis oleh:ghany maulana
Media Belajar Diperbarui pada: Thursday, July 26, 2012

Wednesday, 25 July 2012

Mengubah Bentuk Pecahan

Jenis pecahan ada empat macam yaitu pecahan desimal, pecahan biasa, pecahan persen, dan pecahan campuran. Masing-masing pecahan dapat diubah ke bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing pecahan mempunyai ciri khas, jadi untuk mengubah suatu pecahan menjadi bentuk pecahan biasa, dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.  Berikut ini beberapa cara mengubah pecahan ke bentuk pecahan yang lain.

Mengubah Pecahan biasa ke Pecahan Desimal
1. Pembagian
Pecahan biasa dapat diubah ke bentuk pecahan desimal. Caranya yaitu membagi pembilang pecahan dengan penyebut pecahan. Pembagian dapat dilakukan dengan cara bersusun.  



2. Dengan cara mengubah penyebut menjadi 10, 100, atau 1000. Ingat, bahwa 
     bilangan  desimal  merupakan bilangan per sepuluh, per seratus, atau per seribu.


Contoh : 1/4 =   1  x 25=25
4 x 25100
                       = 0,25
Mengubah Pecahan Desimal ke Pecahan Biasa


Contoh :  0,75 = 75 : 25=3
100 : 25 4
Mengubah Pecahan Campuran ke Pecahan Biasa
Mengubah pecahan campuran ke pecahan biasa dapat dilakukan dengan cara mengalikan bilangan utuh dengan penyebut dan dijumlahkan dengan pembilang. 


8 5 =8 x 7 + 5 = 61
7 7
Mengubah Pecahan Campuran ke Pecahan Desimal
Cara mengubah pecahan campuran menjadi pecahan desimal, sama seperti cara mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Perhatikanlah contoh-contoh berikut ini !
Contoh : 
23 =23
1010
           = 2,3


Membulatkan Pecahan Desimal
Cara membulatkan pecahan desimal adalah sebagai berikut.
  • Apabila angka terakhir (a) lebih besar atau sama dengan 5 (a > 5), maka angka yang sebelumnya bertambah satu.
  • Apabila angka terkahir (a) kurang dari 5 (a < 5), maka angka yang sebelumnya ditulis tetap.
Contoh:
Bilangan 3,183547
a. Bulatkan sampai lima angka di belakang koma;
b. Bulatkan sampai empat angka di belakang koma;
c. Bulatkan sampai tiga angka di belakang koma;
d. Bulatkan sampai dua angka di belakang koma;
e. Bulatkan sampai satu angka di belakang koma.
  • Karena angka sesudah angka kelima lebih besar dari 5, yaitu 7, maka angka yang sebelumnya yaitu 4 ditambah satu menjadi 5. Pembulatannya 3,18355;
  • Karena angka sesudah angka keempat kurang dari 5, maka angka yang sebelumnya ditulis tetap. Pembulatannya 3,1835;
  • 3,184 ( tiga angka dibelakang koma );
  • 3,18 ( dua angka dibelakang koma );
  • 3,2 ( satu angka dibelakang koma ).

Ditulis oleh:ghany maulana
Media Belajar Diperbarui pada: Wednesday, July 25, 2012

Tuesday, 24 July 2012

Menyederhanakan Pecahan

Bilangan pecahan adalah bilangan yang dinyatakan dalam bentuk perbandingan. Kita ketahui jika sebuah bilangan pecahan a/b artinya a : b (dibaca a berbanding b atau dibaca a per b). Dimana a dan b adalah bilangan bulat, a disebut pembilang dan b disebut penyebut.


Bilangan pecahan terbagi menjadi empat yaitu:
  • Pecahan desimal,  merupakan bilangan yang didapat dari hasil pembagian suatu bilangan dengan 10, 100, 1.000, 10.000 dst. Contoh: 0,4;0,75;0,375, dst
  • Pecahan biasa, Bilangan pecahan yang hanya terdiri atas pembilang dan penyebut.contoh: 1/2;1/4,1/8,1/10, dst
  • Pecahan persen, persen artinya perseratus. Pecahan persen merupakan suatu bilangan dibagi dengan seratus. contoh 5% atau 5/100, 10% atau 10/100, 20% atau 20/100, dst
  • Pecahan campuran, Pecahan campuran adalah bilangan pecahan yang terdiri atas bilangan utuh, pembilang dan penyebut. Contoh: 1 1/2;2 1/4;3 5/8, dst
Pecahan Senilai
Kita dapat mengubah suatu pecahan menjadi pecahan lain yang senilai. dengan cara mengalikan atau membagi pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama, kecuali nol.
Contoh : 1/2 = 2/4 = 3/6 = 4/8 dan seterusnya.


Menyederhanakan Pecahan
Pecahan dapat disederhanakan dengan mencari FPB dari pembilang dan penyebutnya. Ubah pecahan ke pecahan biasa, baru disederhanakan
Contoh :
  • Pecahan biasa : contoh 3/12 dapat disederhanakan dengan FPB 3 dan 12 yaitu 3, sehingga 3/12 = 1/4. 1/4 sudah tidak bisa disederhanakan lagi;
  • Pecahan desimal : 1,25 = 125/100 dapat disederhanakan dengan FPB 125 dan 100 yaitu 25, sehingga 125/100 = 5/4;
  • Pecahan persen : 75% = 75/100, dapat disederhanakan dengan FPB dari 75 dan 100 yaitu 25, sehingga 75/100 = 3/4;
  • Pecahan campuran : 2 2/4 = 10/4, dapat disederhanakan dengan FPB 10 dan 4 yaitu 2, sehingga 10/4 = 5/2.
Mengurutkan Pecahan
Pecahan dapat diurutkan dari yang terbesar atau dari yang terkecil. Jika penyebutnya sama, urutkan pecahan-pecahan tersebut dari yang pembilangnya terkecil sampai dengan yang terbesar atau sebaliknya. Jika penyebutnya tidak sama, samakan dahulu penyebut pecahan-pecahan tersebut dengan menggunakan KPK dari penyebut-penyebut tersebut. Setelah itu, urutkan pecahan-pecahan tersebut dari yang pembilangnya terkecil sampai dengan yang terbesar atau sebaliknya.
  • Pecahan dengan penyebut sama :
Misal : 2/8, 1/8, 4/8, 6/8, pecahan tersebut berpenyebut sama, jadi urutkan pecahan dari yang pembilangnya terkecil. Jika diurutkan dari yang terkecil menjadi 1/8, 2/8, 4/8, 6/8, jika diurutkan dari yang terbesar menjadi 6/8, 4/8, 2/8, 1/8
  • Pecahan dengan penyebut berbeda :
Misal : 5/6, 2/3, 4/9, 1/6, pecahan tersebut berpenyebut beda, untuk itu carilah KPK dari penyebutnya. KPK dari 3, 6 dan 9 adalah 18. Ubah pecahan tersebut dengan penyebut 18.
  • 5/6 = 15/18;
  • 2/3 = 12/18;
  • 4/9 = 8/18;
  • 1/6 = 3/18.
Jika diurutkan dari yang terkecil menjadi 1/6, 4/9, 2/3, 5/6, jika diurutkan dari yang terbesar menjadi 15/18, 5/6, 2/3, 4/9, 1/6.
  • Pecahan berbagai bentuk
Misal : 1/4, 5%, 0,75, 1 3/4, pecahan tersebut berpenyebut beda, langkah pertama adalah mengubah pecahan tersebut ke pecahan desimal.
  • 1/4 = 0,25;
  • 5%  = 0, 05;
  • 0,75 = 0,75 (tetap);
  • 1 3/4 = 1, 75.
Jadi urutkan pecahan dari yang pembilangnya terkecil. Jika diurutkan dari yang terkecil menjadi 5%, 1/4, 0,75, 1 3/4, jika diurutkan dari yang terbesar menjadi 1 3/4, 0,75, 1/4, 5%.

Ditulis oleh:ghany maulana
Media Belajar Diperbarui pada: Tuesday, July 24, 2012

Monday, 23 July 2012

Menafsirkan Data

Data dapat kita kumpulkan dengan beberapa cara. Cara mengumpulkan data misalnya dengan wawancara, pengamatan, atau angket. Setelah data terkumpul, data kita masukan ke dalam tabel . Selain menggunakan tabel, data juga dapat disajikan dalam bentuk diagram batang atau diagram lingkaran. Untuk dapat menafsirkan dan membaca sajian data dalam bentuk diagram diperlukan ketelitian. Berikut ini adalah cara membaca dan menafsirkan data dalam bentuk diagram batang dan lingkaran.

Diagram Batang
Perhatikan diagram batang di samping. Diagram batang disamping menunjukan jumlah siswa di sebuah sekolah dasar. Dari diagram tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut :
  • Banyak siswa kelas I adalah 20 orang;
  • Banyak siswa kelas II adalah 15 orang;
  • Banyak siswa kelas III adalah 30 orang;
  • Banyak siswa kelas IV adalah 25 orang;
  • Banyak siswa kelas V adalah 10 0rang;
  • Banyak siswa kelas VI adalah 35 orang;
  • Kelas dengan jumlah siswa terbanyak adalah kelas VI (35 orang);
  • Kelas dengan jumlah siswa paling sedikit adalah kelas V (10 orang);
  • Jumlah siswa di sekolah tersebut adalah 135 siswa ( 20 + 15 + 30 + 25 + 10 + 35 );
  • Selisih antara jumlah siswa terbanyak dengan paling sedikit adalah 25 ( 35-10).
Diagram Lingkaran
Biasanya diagram lingkaran disajikan dalam bentuk derajat atau persen. Untuk dapat menafsirkan dan membaca data dalam bentuk diagram lingkaran diperlukan beberapa hal berikut ini :
  • Diagram lingkaran dalam bentuk derajat (°), ingatlah bahwa satu lingkaran penuh adalah 360°.   Sehingga masing-masing bagian harus dibagi dengan 360;
  • Diagram lingkaran dalam bentuk persen(%), satu lingkaran penuh adalah 100%, jadi masing-masing bagian harus dibagi dengan 100.
Perhatikan diagram lingkaran disamping (°). Diagram tersebut menunjukan jumlah penjualan buku tulis di koperasi sekolah selama semester genap. Jika jumlah semua buku yang terjual  selama semester genap adalah 180 buah, maka :
    • Bulan Januari  banyak buku yang terjual = 90/360 x 180 = 45 buah;
    • Bulan Pebruari banyak buku yang terjual= 90/360 x 180 = 45 buah;
    • Bulan Maret banyak buku yang terjual = 30/360 x 180 = 15 buah;
    • Bulan April banyak buku yang terjual = 60/360 x 180 = 30 buah;
    • Bulan Mei banyak buku yang terjual = 30/360 x 180 = 15 buah;
    • Bulan Juni banyak buku yang terjual = 60/360 x 180 = 30 buah.
    Menentukan besar bagian diagram lingkaran :


    Perhatikan diagram di samping. Diagram di samping adalah hasil panen padi di desa Lumbir selama lima tahun. Jika diketahui jumlah hasil panen selama lima tahun adalah 550 ton maka dapat ditentukan hasil panen pada tahun 2008.


    Hasil panen tahun 2008 = 550 - (75 +100 +175 + 50)
                                                      = 550 - 400
                                                      = 150 ton.

    Ditulis oleh:ghany maulana
    Media Belajar Diperbarui pada: Monday, July 23, 2012

    Sunday, 22 July 2012

    Tabel Distribusi Frekuensi

    Data yang telah dikumpulkan perlu diatur, disususun, disajikan dalam bentuk yang jelas dan baik. Selain berupa angka-angka ringkasan, penyajian data juga dapat berbentuk tabel dan grafik. Tabel merupakan kumpulan angka-angka yang disusun menurut kategori-kategori sehingga memudahkan untuk pembuatan analisis data. Sedangkan, grafik merupakan gambar-gambar yang menunjukkan secara visual data berupa angka (mungkin juga dengan simbol-simbol) yang biasanya juga berasal dari tabel-tabel yang telah dibuat


    Misalnya diperoleh data tentang tinggi badan siswa kelas VI. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyajikan data itu dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Urutkan data tersebut kemudian masukkan dalam tabel.  Berikut ini data hasil pengukuran tinggi badan 40 siswa kelas VI.
    • 135 135 136 132 133 132 130 134 140 135
    • 132 135 133 131 140 134 135 133 130 135
    • 135 136 137 138 138 132 131 134 133 134
    • 139 136 137 138 133 131 136 137 138 134
    Langkah-langkah menyajikan data dalam bentuk tabel.
    1. Urutkan data tersebut mulai dari yang terkecil.
    • 130 130 131 131 131 132 132 132 132 133 133 133 133 133 134 134 134 134 134 135 135 135 135 135 135 135 136 136 136 136 137 137 137 138 138 138 138 139 140 140
    2. Menyajikan data dalam tabel.
    Buatlah tabel dengan kolom seperti berikut. Setelah itu isikan sesuai data yang telah diurutkan. Berikut adalah tabel tinggi badan siswa kelas VI :
    No.
    Tinggi BadanBanyak DataJumlah Data
    1.
    130
    2
    260
    2.
    131
    3
    393
    3.
    132
    4
    528
    4.
    133
    5
    665
    5.
    134
    5
    670
    6.
    135
    7
    945
    7.
    136
    4
    544
    8.
    137
    3
    411
    9.
    138
    4
    552
    10.
    139
    1
    139
    11.
    140
    2
    280

    Jumlah
    40 Anak
    5.387
    Dari tabel dapat diketahui banyak anak dengan tinggi 130 cm ada 2, tinggi 135 cm ada 7 anak. Anak dengan tinggi 135 cm paling banyak. Tinggi anak paling pendek 130 cm. Tinggi anak paling tinggi 140 cm.


    Dari tabel di atas dapat kita tentukan : Rata-rata(mean), nilai tengah(median), dan modus.
    • Rata-rata, rata-rata dicari dengan cara membagi jumlah data dengan banyak data. Dari tabel di atas rata-rata = 5.374/40 = 134,675;
    • Jika banyak data genap, tidak ada sebuah nilai data di tengah. Di tengah-tengah ada dua nilai data. Mediannya adalah rata-rata kedua nilai data tersebut. Cara menghitungnya, jumlahkan kedua nilai data, kemudian dibagi dua. Median dari data di atas adalah (135 +135) /2 =135;
    • Modus dari data di atas adalah 135 ( muncul sebanyak 7 kali )

    Ditulis oleh:ghany maulana
    Media Belajar Diperbarui pada: Sunday, July 22, 2012

    Saturday, 21 July 2012

    Mengumpulkan dan Membaca Data

    Mengumpulkan data dapat dilakukan dengan melakukan percobaan, wawancara, atau mengutip dari sebuah laporan. Contohnya, kita ingin mengetahui data mata pencaharian penduduk. Kita dapat datang ke kelurahan atau ke kantor kepala desa. Kita bisa mencatat data yang kita perlukan. Data adalah informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan atau penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk angka atau lambang. Cara-cara untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut.
    • Wawancara, Data dapat diperoleh dengan cara melakukan wawancara terhadap objek yang kita teliti. Wawancara ini dilakukan dengan tanya jawab.
    • Angket, Angket adalah suatu pertanyaan yang dibuat oleh peneliti yang diberikan pada objek yang diteliti. Pada angket biasanya terdapat beberapa pilihan terhadap jawaban sebuah pertanyaan.
    • Studi literatur, Peneliti dalam mendapatkan data/informasi dari buku, koran, ataupun majalah.
    • Pengamatan langsung, Peneliti langsung datang pada objek yang diteliti.
    Perhatikan contoh data yang disajikan dalam tabel berikut ini :
    No
    Jenis Olag Raga
    Banyak Siswa
    1.
    Tenis meja
    2 orang
    2.
    Bulu tangkis
    3 orang
    3.
    Renang
    7 orang
    4.
    Kasti
    8 orang
    5.
    Sepak bola
    6 orang
    6.
    Voli
    4 orang
    Data olahraga yang digemari siswa kelas VI di depan disajikan dalam bentuk tabel. 

    Perhatikan data olahraga yang digemari siswa kelas VI SD yang disajikan dalam bentuk tabel di atas. Dari tabel tersebut dapat kita tentukan sebagai berikut :
    • Siswa yang gemar tenis meja ada 2  orang.
    • Siswa yang gemar bulu tangkis ada 3 orang.
    • Siswa yang gemar renang ada 7 orang.
    • Siswa yang gemar kasti ada 8 orang.
    • Siswa yang gemar sepak bola ada 6 orang.
    • Siswa yang gemar voli ada 4 orang.
    • Jumlah siswa kelas VI  ada 30 orang.
    • Siswa yang gemar olahraga renang dan voli ada 11 orang (7 + 4).
    • Selisih antara siswa yang gemar kasti dengan voli adalah 4 orang (8-4).
    • Olahraga yang paling sedikit digemari adalah tenis meja (2 orang).
    • Olahraga yang paling banyak digemari adalah kasti (8 orang).
    • Urutan olahraga dari yang paling sedikit penggemarnya adalah tenis meja, bulu tangkis, voli, sepak bola, renang, dan kasti.
    Selain dalam bentuk tabel, data dapat disajikan dalam bentuk diagram. Bentuk diagram yang biasa digunakan yaitu diagram garis, diagram batang, dan diagram lingkaran. Berikut adalah data tersebut di atas apabila disajikan dalam diagram :

    Untuk menyajikan data dalam bentuk diagram lingkaran diperlukan beberapa langkah seperti di bawah ini :
    • Ingatlah bahwa satu lingkaran penuh adalah 360° ;
    • Karena jumlah anak ada 30 anak maka besar sudut masing-masing anak adalah = 360 : 30 = 12 °.
    • Tentukanlah besar sudut masing-masing cabang olah raga dengan cara membaginya dengan 360, atau mengalikan dengan besar sudut masing-masing anak yaitu 12 ° .
    • Besar sudut masing-masing cabang olah raga : tenis meja = 2/30 x 360 ° , sehingga besar sudut cabang olah raga tenis meja adalah 24 ° , bulu tangkis = 3/30 x 360 °  = 36 ° , renang = 7/30 x 360 = 84 °, kasti = 8/30 x 360 °= 96 °, sepak bola = 6/30 x 360 °= 72 °, voli = 4/30 x 360 °=48°. Apabila semua sudut dijumlahkan = 360 ° .

    Ditulis oleh:ghany maulana
    Media Belajar Diperbarui pada: Saturday, July 21, 2012

    Perubahan Benda

    Segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami perubahan. Perubahan tersebut ada yang merugikan dan ada juga yang menguntungkan. Air mendidih karena pengaruh suhu yang meningkat. Pada proses ini terjadi perubahan wujud cair menjadi uap. Selain suhu, perubahan benda juga dipengaruhi oleh kelembaban (kandungan air pada udara), makhluk hidup, dan pembakaran. Panas merupakan satu bentuk energi yang dapat melakukan kerja pada suatu benda. Kerja yang dilakukan panas pada benda mempengaruhi keadaan benda. Perubahan benda karena pengaruh panas dibedakan menjadi dua, yaitu:

    Perubahan fisika
    Perubahan fisika adalah perubahan wujud benda yang tidak disertai perubahan sifat. Perubahan benda dapat kembali ke wujud semula atau bersifat sementara. Pada perubahan fisika, hanya terjadi perubahan yang tidak menghasilkan zat baru. Perubahan ini hanya menimbulkan perubahan wujud zat saja. Logam besi dipanaskan pada suhu tinggi akan membara, lunak dan mencair. Warnanya pun berubah kemerahan dengan suhu yang sangat panas, namun bila suhunya turun, besi akan kembali seperti semula. Pada perubahan ini, tidak menghasilkan zat baru, sehingga digolongkan perubahan fisika.  Beberapa bentuk perubahan fisika adalah sebagai berikut :  

    Perubahan Kimia
    Perubahan kimia adalah peristiwa perubahan pada benda (zat) yang menghasilkan zat baru yang berbeda dengan sifat asalnya. Obat nyamuk yang dibakar akan menimbulkan bau, asap, dan abu. Abu, asap, dan bau yang terjadi merupakan zat baru hasil pembakaran. Zat baru tersebut tidak dapat dikembalikan ke bentuk asalnya. Hal ini disebabkan susunan materinya mengalami perubahan setelah mengalami pembakaran. Perubahan pada zat yang menimbulkan zat yang baru disebut perubahan kimia. Contoh lain dari perubahan kimia adalah, gula yang dibakar menjadi karbon dan asap, proses fotosintesis, fermentasi, kertas yang dibakar, dan besi yang berkarat dan sebagainya. 

    Pelapukan, Perkaratan, Pembusukan
    Pelapukan
    Pelapukan adalah peristiwa perubahan bentuk dan sifat benda karena beberapa faktor. Pelapukan merupakan proses yang berhubungan dengan penghancuran bahan. Benda yang umumnya mengalami pelapukan adalah kayu. Hal itu dapat disebabkan oleh organisme (makhluk hidup)maupun anorganisme(benda mati). Waktu yang diperlukan untuk proses pelapukan itu sangat lama. Pelapukan dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pelapukan meknik dan pelapukan biologis. 

    Pelapukan biologis disebabkan oleh aktivitas organisme, seperti jamur dan jasad renik lainnya. Contohnya, kayu yang tadinya keras, lama-kelamaan akan hancur dimakan rayap. Untuk menghindarinya, kayu tersebut harus dicat terlebih dahulu.

    Pelapukan mekanik terjadi akibat suhu, tekanan, angin, dan air. Pelapukan mekanik dapat berlangsung lama atau sebentar. Contohnya, kamu pasti pernah melihat batuan yang ketika dipegang dan ditekan sedikit akan hancur. Batuan tersebut sudah mengalami proses pelapukan yang sangat lama akibat terkena air, perubahan, suhu, dan tekanan.
    Pelapukan pada kayu dapat dicegah dengan cara melapisi kayu dengan cat dan pernis. Dengan cara tersebut dapat menutupi celah-celah yang terdapat dalam kayu.

    Perkaratan
    Perkaratan terjadi ketika logam besi berikatan dengan udara dan air. Kondisi lingkungan mengakibatkan benda mengandung kadar garam dan asam yang sangat tinggi. Contoh: besi yang dibiarkan di udara terbuka dalam waktu yang lama. Perkaratan suatu benda sangat mudah terjadi di daerah pantai. Hal ini karena air pantai mengandung kadar garam yang tinggi. Logam besi sebelum berkarat memiliki sifat yang kuat, keras dan mengkilap. Namun, jika sudah mengalami perkaratan, besi tersebut menjadi rusak, mudah patah, rapuh, warnanya berubah menjadi coklat bahkan menjadi hitam. Banyak cara yang dilakukan untuk mencegah perkaratan. Beberapa di antaranya dengan cara melapisi besi dengan cat. Cara ini dilakukan agar besi tidak bersentuhan langsung dengan udara karena terhalang oleh cat. Beberapa cara dilakukan, misalnya melapisi dengan campuran nikel atau pernikel yang mengkilap. Tujuannya yaitu menghalangi udara bersentuhan dengan lapisan besi. Kita juga dapat mencegah perkaratan dengan menyimpan peralatan besi ditempat yang kering dan tidak lembap.

    Pembusukan
    Pembusukan lebih sering terjadi pada benda atau makanan yang basah dan lembab. Hal ini karena kadar air yang tinggi dalam makanan mempercepat proses pembusukan.  Penyebab pembusukan adalah karena adanya makhluk hidup yang berukuran sangat kecil, seperti bakteri dan jamur. Jamur merupakan penyebab yang utama dari pembusukan. Jamur akan mudah berkembang pada keadaan lingkungan yang lembab. Selain itu, jamur tumbuh dengan pesat di tempat yang memiliki suhu yang hangat, tidak terlalu dingin.  Kandungan air yang terlalu banyak dalam bahan makanan menyebabkan pembusukan lebih mudah terjadi. Jamur dan bakteri penyebab pembusukan akan tumbuh berkembang dengan cepat jika banyak udara.  Pembusukan makanan dapat kita ketahui dari tanda-tandanya. Makanan biasanya berubah warna dan berbau.

    Pembusukan dapat dicegah dengan cara-cara sebagai berikut.
    1. Pengeringan
    Pengeringan bahan makanan dapat dilakukan dengan menjemur langsung di bawah sinar matahari. Pengeringan juga dapat menggunakan alat, misalnya oven. Makanan kering lebih tahan lama daripada makanan basah. Hal ini karena mikroba lebih mudah hidup di tempat basah daripada kering. Pengeringan menyebabkan kadar air dalam makanan berkurang. Makanan menjadi tidak lembap.
    2. Pengasinan
    Cara mengawetkan makanan dengan pengasinan adalah dengan menggunakan bahan garam. Cara ini sering disebut dengan teknik penggaraman. Garam merupakan zat yang dapat menghambat organisme pembusu. Cara ini biasa digunakan para nelayan yang membuat ikan asin. Pengasinan merupakan perpaduan antara pengeringan dan penggaraman. Setelah bahan makanan digarami, baru kemudian dijemur sampai kering.
    3. Pengasapan
    Cara mengawetkan makanan dengan teknik pengasapan yaitu dengan cara menaruh bahan makanan pada suatu wadah, kemudian diasapi dari bawah. Salah satu contoh teknik pengasapan adalah pembuatan sale pisang secara tradisional. Proses pengasapan dimaksudkan untuk pengawetan pisang sehingga salai pisang tahan lama selain itu juga berguna untuk  mematikan mikroba seperti jamur, bakteri, dan mencegah perubahan warna pisang
    4. Pemanisan
    Cara mengawetkan makanan dengan pemanisan yaitu memasukan makanan ke dalam cairan yang mengandung gula. Jika kadar gulanya tinggi akan dapat mencegah kerusakan makanan. Contoh cara mengawetkan makanan dengan pemanisan adalah pada manisan buah-buahan yang sering kita makan.
    5. Pengalengan
    Cara pengawetan makanan dengan pengalengan merupakan cara yang banyak digunakan saat ini. Pengalengan dilakukan dengan cara memasukan bahan makanan ke dalam kaleng aluminium atau benda logam lainnya terus ditambahkan zat pengawet. Contoh bahan makanan yang diawetkan dengan pengalengan adalah susu, ikan, daging, dan lain-lain.
    6. Pendinginan
    Cara mengawetkan makanan dengan pendinginan dapat kita temui sehari-hari. Memasukan bahan makanan ke dalam kulkas merupakan contoh pendinginan. Bahan makanan yang sering diawetkan dengan pendinginan antara lain ikan, daging, sayuran, buah dan lain-lain.
    Selain itu, makanan dapat diawetkan dengan cara lain.

    Ditulis oleh:ghany maulana
    Media Belajar Diperbarui pada: Saturday, July 21, 2012